Ekskursi SMA Kolese Kanisius ke Mahad Al-Zaytun

Kondisi masyarakat sekarang ini sangat plural dan kaya akan perbedaan. Namun banyak pihak yang menganggap perbedaan tersebut menjadi suatu hal yang dapat memecah belah kita sebagai bangsa Indonesia. Dalam menanggapi hal itu SMA Kolese Kanisius memiliki cara sendiri dalam menanamkan sikap pluralisme kepada muridnya, yaitu melalui Program Ekskursi.

Dalam program ini para murid dari SMA Kolese Kanisius akan dikirimkan ke berbagai institusi yang memiliki basis pendidikan agama yang berbeda. Saya sendiri dikirim ke Pondok Pesantren Al-Zaytun

Pengalaman

Saya ditempatkan di Pondok Pesantren Al-Zaytun yang berlokasi di Indramayu. Sesuai jadwal kami akan tinggal di sana selama 4 hari 3 malam. Pada awalnya saya tidak memiliki gambaran sama sekali terkait dengan pola hidup di pesantren.

Jumlah siswa yang dikirim ke Pondok Pesantren Al-Zaytun berjumlah 30 siswa dan 2 guru pendamping. Sebelum keberangkatan kami semua diharuskan membawa beberapa barang untuk keperluan sehari-hari disana. Namun hal yang membuat saya cukup kaget adalah kami diharuskan untuk membawa setelan jas.

Guru pembimbing kami berkata bahwa disana merupakan contoh dari pesantren modern, dimana para santri menggunakan pakaian formal dalam pembelajarannya.

Keberangkatan

Kami semua berangkat dari SMA Kolese Kanisius pukul 08.30 pagi. Perjalanan kesana cukup lancar. Selama perjalanan ada sepasang orangtua anak didik dari Mahad Al-Zaytun yang cukup ramah kepada kami semua.

Mereka memberikan gambaran singkat tentang kehidupan para santri disana. Hal ini membuat saya memiliki sedikit gambaran tentang pola hidup disana. Mereka mengatakan bahwa disana sedang ada pembangunan menara masjid yang katanya ketinggiannya mengalahkan Monas.

Perjalan kesana memakan waktu sekitar 5 jam. Setelah kami sampai disana, kami semua disambut oleh anggota dari OPMAZ (Organisasi Pelajar Mahad Al-Zaytun). Kami semua merasa sangat diterima oleh pengurus dari sekolah maupun asrama disana.

Saat saya memasuki kamar saya pun saya diterima dengan baik oleh para santri disana. Mereka semua bisa langsung mencair dan membuka pembicaraan terhadap kami. Saya sendiri sekamar dengan 1 siswa SMA Kolese Kanisius dan 6 santri dari Pondok Pesantren Al-Zaytun.

Pada hari pertama ini kami hanya berkeliling asrama sebentar dan lebih banyak berinteraksi dengan teman sekamar kami.

Dibawah ini adalah foto dari asrama yang kami tempati:

Pondok Pesantren Al-Zaytun Indramayu

Selama di Pesantren

Saya cukup terkesan dengan kegiatan-kegiatan yang dilakukan di pesantren ini. Banyak hal-hal yang bisa dipelajari disini. Intinya kegiatan di pesantren ini tidak hanya berfokus pada pembelajaran agama namun juga pembelajaran formal yang dapat mengembangkan santrinya. Kegiatan kami selama di pesantren kurang lebih mirip dengan apa yang dilakukan para santri disana.

Sistem Pendidikan

Kami mengikuti kegiatan yang ada di sekolah dan juga di pesantren. Kebetulan saat kami kesana sedang diadakan ujian. Jadi kami mengikuti beberapa ujian diantaranya Ujian PKN dan Speaking Test.

Sistem ujian disaan sudah menggunakan sistem CBT (Computer Based Test). Tidak heran pesantren ini disebut dengan pesantren modern. Hal yang membuat saya cukup terkesan dengan pembelajaran disini adalah banyaknya pengajar yang menyambut kami menggunakan bahasa Inggris.

Disana kami juga sempat mengajar bahasa Inggris di masjid pada tiap pagi. Saya merasa bahwa disini pengembangan bahasa sangat ditekankan, dan nyatanya memang para santri disini disiapkan untuk menghadapi era global yang membutuhkan pengetahuan bahasa, terlebih bahasa Inggris.

Lingkungan

Selain mengikuti pembelajaran di sekolah, kami juga diajak berkeliling pondok pesantren Al-Zaytun. Wilayahnya disini sangat luas sehingga cukup sulit bila dikelilingi dengan berjalan kaki. Di sini kendaraan bermotor tidak diperbolehkan masuk, jadi yang diperbolehkan hanya sepeda. Tidak heran udara disini cukup bersih.

Lingkungan disini juga cukup bersih sehingga kami merasa cukup nyaman berjalan kaki disana. Para santri sudah terbiasa melakukan kerja bakti dalam menyapu jalan dan taman. Saya dan teman-teman pun sempat ikut menyapu jalan-jalan di sana.

Berkeliling di Pondok Pesantren Al-Zaytun

Banyak tempat yang kami kunjungi selama berada di pesantren ini.Selama berkeliling kami ditemani oleh semacam tour guide yang menjelaskan berbagai hal kepada kami. Beliau sudah cukup tua namun masih tetap bersemangat dalam menjelaskan.

Beliau menjelaskan kepada kami bahwa bangunan yang dibangun di pesantren ini milik seluruh rakyat Indonesia bukan hanya milik Al-Zaytun, dan saya merasa cukup terkesan dengan perkataan beliau.

Saya beruntung juga bisa menaiki menara masjid yang memiliki 32 lantai. Kami semua menaikinya dengan tangga dan dibutuhkan waktu sekitar 30 menit. Cukup melelahkan namun saat sampai diatas rasa lelahnya akan terbayarkan. Udara dingin yang ada diatas ditambah dengan pemandangan yang indah membuat kami ingin berlama-lama diatas.

Pondok Pesantren Al-Zaytun Indramayu
Menara Masjid

Dapat terlihat betapa tingginya menara yang sedang dibangun ini bukan?

Pondok Pesantren Al-Zaytun Indramayu
Pemandangan dari Atas Menara Masjid

Selain menaiki menara masjid kami juga diajak berkeliling Masjid Rahmatan Lil Alamin. Masjid ini sangat besar dalamnya. Walau belum 100% selesai dibangun, namun masjid ini sudah bisa dimasuki dan digunakan dalam acara-acara besar.

Pondok Pesantren Al-Zaytun Indramayu

Kami juga diajak berkeliling menuju komplek perindustrian yang ada di Mahad Al-Zaytun ini. Saya sendiri tidak menyangka bahwa sebuah pesantren bisa memiliki komplek perindustriannya sendiri. Mungkin hanya satu-satunya di Pondok Pesantren Al-Zaytun.

Di dalam komplek perindustriannya ada pabrik gula, pabrik pengolahan beras, pabrik pemotongan ayam dan sapi serta ada juga pengolahan kayu dan besi. Sangat lengkap pabrik yang ada di komplek perindustrian disana.

Nilai yang Didapatkan

Budaya Toleransi dan Pluralisme

Sesuai dengan moto dari pesantren ini yaitu Pusat Pengembangan Budaya Toleransi dan Perdamaian, nilai toleransi dapat saya temukan di pesantren ini. Saya belajar banyak hal terkait agama yang berbeda dari agama yang saya percayai. Mereka pun banyak bertanya tentang agama saya. Namun kami semua bisa saling memahami dan tidak mempermasalahkannya.

Ternyata disana mereka memang sudah terbiasa dengan dialog antar agama. Pihak pesantren sering mengadakan dialog antar umat beragama dan hal ini saya rasa cukup baik dalam pengembangan pola pikir pluralisme.

Kesimpulan

Saya bersyukur mendapatkan kesempatan untuk ekskursi di Pondok Pesantren Al-Zaytun. Saya mendapatkan banyak pelajaran berharga dari mereka yang berbeda. Namun kami sadar bahwa kami tetap bersaudara, sebagai sesama anak bangsa.

Melalui pengalaman ini saya makin sadar bahwa perbedaan harus dijadikan kekuatan bukan dijadikan bahan pemecah belah.

Bagikan cerita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *